Showing posts with label dakwah. Show all posts
Showing posts with label dakwah. Show all posts

Rahsia Di Sebalik Musibah
Thursday, 15 October 2009 13:04 Abu Ridhwan

Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua yang dilaksanakan dan ditetapkan. Sebagaimana juga Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua syari'at dan semua yang diperintahkan. Allah menciptakan tanda-tanda apa saja yang dikehendakiNya, dan menetapkannya untuk menakut-nakuti hambaNya. Mengingatkan terhadap kewajiban mereka, yang merupakan hak Allah ‘Azza wa Jalla.

Mengingatkan mereka dari perbuatan syirik dan melanggar perintah serta melakukan yang dilarang. Sebagaimana firman Allah.
“Dan tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti” (Al-Israa : 59)
Dan FirmanNya lagi:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahawa Al-Qur'an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahawa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu” (Fushilat : 53)
Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman yang bermaksud:
“Katakanlah (Wahai Muhammad) : “Dia (Allah) Maha Berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), dan merasakan kepada sebahagian kalian keganasan sebahagian yang lain” (Al-An'am : 65)
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Shahih-nya dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dia (Jabir) berkata :
“Saat firman Allah Azza wa Jalla “Qul huwal al-qaadiru 'alaa an yab'atsa 'alaikum 'adzaaban min fawuqikum” turun, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdo'a : “Aku berlindung dengan wajahMu”, lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan (membaca) “Awu min tajti arjulikum”, Rasulullah berdo'a lagi, “Aku berlindung dengan wajahMu”.
Diriwayatkan oleh Abu Syaikh Al-Ashbahani dari Mujahid tentang tafsir ayat ini: “Qul huwal al-qaadiru 'alaa an yab'atsa 'alaikum 'adzaaban min fawuqikum”. Beliau mengatakan, iaitu halilintar, hujan batu dan angin taufan. “Awu min tajti arjulikum”, gempa dan tanah runtuh.

Jelaslah, bahawa musibah-musibah yang terjadi pada masa-masa ini di beberapa tempat termasuk ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan yang digunakan untuk menakut-nakuti para hambaNya. Semua yang terjadi di alam ini, (yakni) berupa gempa, tanah runtuh, banjir dan peristiwa lain yang menimbulkan bahaya bagi para hamba serta menimbulkan berbagai macam penderitaan, disebabkan oleh perbuatan syirik dan maksiat.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema'afkan sebahagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Asy-Syuura : 30)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu kerana (kesalahan) dirimu sendiri” (An-Nisaa : 79)
Tentang umat-umat terdahulu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (Al-Ankabut : 40)
Maka wajib bagi setiap kaum Muslimin yang mukallaf dan yang lainnya, agar bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, istiqamah diatas Deen (agama)Nya, serta waspada terhadap semua yang dilarang, iaitu berupa perbuatan syirik dan maksiat. Sehingga, mereka selamat dari seluruh bahaya di dunia dan akhirat, serta Allah menolak semua azab dari mereka, dan menganugerahkan kepada mereka segala jenis kebaikan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Al-A'raaf : 96)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi” (Al-A'raaf : 97-99)
Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: ”Pada sebahagian waktu, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan izin kepada bumi untuk bernafas, lalu terjadilah gempa yang dahsyat. Dari peristiwa itu, lalu timbul rasa takut pada diri hamba-hamba Allah, taubat dan berhenti dari perbuatan maksiat, tunduk kepada Allah dan penyesalan. Sebagaimana perkataan ulama Salaf, pasca gempa. ”Sesungguhnya Rabb kalian mencela kalian”, Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu, pasca gempa di Madinah menyampaikan khutbah dan nasihat; beliau Radhiyallahu 'anhu mengatakan, ”Jika terjadi gempa lagi, saya tidak akan mengizinkan kalian tinggal di Madinah”.
Atsar-atsar dari Salaf tentang hal ini sangat banyak. Maka saat terjadi gempa atau peristiwa lain, seperti gerhana, angin ribut atau banjir, wajib segera bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, merendahkan diri kepadaNya dan memohon ‘afiyah kepadaNya, memperbanyak zikir dan istighfar. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana.
”Jika kalian melihat hal itu, maka segeralah berzikir kepada Allah Azza wa Jalla, berdo'a dan beristighfar kepadaNya”

Disunnahkan juga menyayangi fakir miskin dan bersedekah kepada mereka. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ”Kasihanilah, niscaya kalian akan dikasihani”
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. ”Orang yang menebar kasih sayang akan disayang oleh Dzat Yang Maha Penyayang. Kasihinilah yang di muka bumi, kalian pasti akan dikasihani oleh (Allah) yang di atas langit”

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Orang yang tidak memiliki kasih sayang, pasti tidak akan disayang”
Diriwayatkan dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah, bahawa saat terjadi gempa, dia menulis surat kepada pemerintah daerah agar bersedekah.

Diantara faktor terselamatnya dari segala keburukan, adalah apabila pemerintah segera memimpin rakyat dengan al-haq, menerapkan hukum Allah ‘Azza wa Jalla, di tengah-tengah mereka, memerintahkan kepada yang ma'ruf serta mencegah kemungkaran. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,
”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan solat, menunaikan zakat dan mereka ta'at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijakasana” (At-Taubah : 71)

Allah berfirman,
”Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,(iaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan solat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (Al-Hajj : 40-41)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman.
”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (Ath-Thalaaq : 2-3)

Ayat-ayat tentang ini sangat banyak.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
”Barangsiapa menolong saudaranya, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan menolongnya” (Muttafaq 'Alaih)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan dia di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah Azza wa Jalla akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya)
Hanya kepada Allah kita memohon agar memperbaiki situasi dan realiti kaum Muslimin, memberikan kefahaman agama dan menganugerahkan kekuatan untuk istiqamah, segera bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari semua perbuatan dosa. Semoga Allah memperbaiki situasi para penguasa dan pemimpin kaum Muslimin, semoga Allah menolong al-haq melalui mereka serta menghinakan kebatilan, membimbing mereka untuk menerapkan syari'at Allah ‘Azza wa Jalla atas para hamba. Dan semoga Allah melindungi mereka dan seluruh kaum Muslimin dari fitnah dan perangkap syaitan yang menyesatkan. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa untuk hal itu.

(Dipetik dari tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dalam Majmu Fatawa wa Maqaalaat Mutanawwi'ah IX/148-152).

::copy n paste:: tq abu ridhwan::

Akhir-akhir ini, pelbagai perkara yang berlaku. Perkara yang apabila kita bertenang, kemudian menarik nafas panjang dan meleraikan kekusutan yang berkecamuk di kepala, sebenarnya kita boleh tersenyum kerananya…

Rindunya pada dia yang pernah menunjukkan pada diri ini bahawa kita boleh menjadi pohon yang berbuah rendang. Yang apabila dibaling batu, membalas dengan buah yang masak ranum. Kami bertemu kerana kami punya cita-cita yang sama, walaupun kami ini berbeza kabilah…

Terdapat satu peristiwa yang tidak mungkin terluputkan dari ingatan. Lidah ini, tanpa sedar telah mengguris hatinya dengan kata-kata yang pelik. Kenapa pelik? Kerana (baruku sedar) hanya orang-orang yang pelik-pelik saja yang berkata-kata begitu…

“Astagfirullah! Istigfar ukhti, istigfar!”
Goncangan terasa cukup kuat, bukan sekadar menggegarkan tubuh ini, namun turut sama menggegarkan rasa yang terdalam.
“Terlalu banyak persamaan kita, kenapa hanya perbezaan yang sedikit itu yang enti nampak? Di mana berlapang dada enti?”
Jelas kelihatan air jernih disudut matanya. Dia segera berlalu. Mungkin membawa hati yang luka.

Astagfirullah… kertas dicapai, dan satu garis lurus dibuat. Disudut kiri ditulis SAMA, dan kanan pula BEZA. Benar katamu… bahagian sebelah kanan hampir saja kosong jika bukan kerana satu atau dua perkataan. Namun, perkataan itulah yang dikorek-korek, hingga menjadi luka yang membusung. Sehingga bernanah-nanah dan mengeluarkan bau yang busuk. Bukankah Rasulullah pernah menegur Muhajirin dan Ansor untuk meninggalkan seruan jahiliyah itu? Kenapa tidak diambil pengajaran dan masih menjadi PELIK?

Maafkan wahai ukhti, kiranya diri ini terlupa seketika pesan itu… kiranya, diri ini terlalai pada kata-kata yang selalu diulang-ulang… bekerja sama atas perkara yang disepakati, berlapang dada pada perkara yang diperselisihkan…

Petang itu enti pulang bersama buah tangan yang sangat banyak dan senyum manis yang paling menawan. Jazakillah ukhti, kerana pengertian… kerana sudi memaafkan… kerana memberi peluang…

Alhamdulillah, kita telah dipertemukan seawal menjejakkan kaki ke Negara Antah Berantah ini. Rupanya, itulah antara bekalan yang penting yang diperlukan…
***
Masjid Biru ini memang sentiasa penuh terutamanya pada waktu-waktu solat begini. Tiba-tiba, satu suara yang familiar memberi salam. Rupanya seorang kakak senior dalam kabilah, yang sama-sama baru selesai berjemaah. Selepas bertukar khabar, dia bertanya.
+“Dah mula ‘bekerja’ di sini?”
-“InsyaAllah, Alhamdulillah.”
+“Mesti dah berlaku bertembungan dengan kabilah sebelah.”
-“Ana tak faham.”
+“Belum pernah bergaduh dengan mereka ke? Kalau belum maknanya enti belum betul-betul bekerja lagi.”
Ana tersengih. Aduhai kakakku…
-“InsyaAllah setakat ni ana rasa ana sudah bekerja, tapi belum ada perselisihan macam yang akak cakap tu.”
+“Maknanya belum betul-betul lagilah tu. Indikator bekerja di Negara Antah Berantah ni adalah bila kita sudah bertembung dengan mereka. Barulah betul-betul bekerja namanya.”
-“Kelakarlah akak ni. Indikator tu tak pernah ana dengar. Memang ana faham, siapa yang bekerja dia akan berdepan dengan masalah, tapi bukan bercakar sesama sendiri.”
+“Enti belum faham lagi. Istilah sesama sendiri tu tak sesuai. Waqi’ di sini memang macam tu. Mereka akan cuba bergaduh dengan kita.”
-“Kalau begitu, ana pilih untuk tidak faham sajalah. Jika ada yang mahu bergaduh, biar mereka bergaduh sorang-sorang. Ana nak berkawan. Jika semua orang pun begitu, biarlah ana yang mengubahnya, bermula dengan diri ana sendiri.”
+“Nampak sangat enti masih baru dan tidak faham apa-apa.”
-“Jazakillah kak. Beruntunglah ana sebab masih baru dan tidak faham. Mujur juga sebab kalau tidak mesti ana pun praktikkan benda yang sama…”

Bicara petang itu membuatkan diri teringat pada peristiwa yang membekas dihati ini. Hp menerima mesej yang sangat panjang, penuh dengan kata-kata benci dan meluat.
“…Harap selepas ni enti jgn hubungi ana lagi. Ana sudah ber‘janji’ untuk tidak mendengar dan bercakap dengan enti lagi…”
Kala itu, ukhti yang dirindui sedang bersama menikmati minum petang (yang sebenarnya breakfast, lunch dan dinner kita juga hari itu). Enti tersenyum sambil berkata,
“Islam itukan menganjurkan persaudaraan dan dakwah kita adalah dakwah kasih sayang…” Sambil menepuk bahuku, enti berkata penuh makna;
“Hei Daie… hati jangan sejemput!!!”

Esoknya, di dewan kuliah. Nota pendek tulisan tangan (yang tidak berapa cantik itu) dilipat kemas, kemudian diselitkan pada buku ukhti yang menghantar sms semalam. Nota itu punya dua perenggan, dimulai dengan ayat,
“…enti cuma janji untuk tidak berjumpa dan bercakapkan? Jadi apa kata ana menulis surat?…”
Dan tengah hari itu, kami solat berjemaah bersama-sama disurau fakulti.
Walaupun kami berbeza kabilah, namun kami yakin. Jika suatu hari nanti, tibanya masa untuk kami bekerja bersama, maka perkara itu adalah mudah untuk kami lakukan.
Kerana antara kami,
tiada perselisihan,
tiada luka atau guris yang memedih,
tiada rasa superior atau inferior antara satu dengan yang lain…
yang ada cuma rasa kasih sayang yang mendalam,
kerana ukhuwwah kami fillah…
kerana pada pandangan mata kami yang baru dan mentah ini,
kami adalah ‘sesama sendiri’…
sama ada memandang atau dipandang,
yang jelas tertera pada kami,
adalah kami punya cita yang sama…

***
Teringat kepada adik yang sedang berada jauh di mata. Seringkali bila nombor seberang laut tertera di hp, hati menjadi risau. Musibah apa pula yang melanda kali ini? Dan setiap kali itulah yang mampu dipesan adalah; Sabar, Ikhlas dan perhatikan Akhlak…
Dalam air mata dan sendu kamu itu, kamu diingatkan kepada akhlak…
kenapa ia juga penting? Sepenting sabar dan ikhlas? …

Kerana kita bersaudara dik…
kerana bapa kita adalah ISLAM dik…
insyaAllah kita akan bersatu suatu hari nanti…
dan jika kita menjaga akhlak kita,
insyaAllah, usaha ke arah itu akan lebih mudah.
Kerana kita tidak perlu segan dan malu dengan kesilapan lalu,
dengan terkasar bahasa dan hati yang terguris…
(ke, memang tidak terlintas bahawa suatu hari nanti kita akan bersatu? Huhuhu, nauzubillah…)
Adik sedihkah diri dihina? Adik sedihkah diri diasingkan? Adik sedihkah dikatakan asing? Adik sedihkah dengan semua yang pelik-pelik itu? Hati adik pedihkah dengan kata-kata itu?

Adikku, dengar baik-baik ya…
“Hey daie… hati jangan sejemput!!!”

***
Untuk diri sendiri, jgnlah tutup mata, telinga, dan terutama sekali hati… untuk terus menerus mencari dan mendapatkan kebenaran… kebenaran itu, walaupun pahit, akan tetap benar… teringat seawal-awal mengenal madrasah ini, diri bertanya kepada sorg dia yang dipanggil murobbi… “Kita ini siapa?” jawab dia sambil tersengih, “Kita adalah penegak yg hak, penolak kebatilan!”

Ukhti yang dirindui… Jazakumullah hu khairan jaza untuk mu (dan ramai lagi sebenarnya di luar sana, yang pernah ditemui atau insyaAllah akan ditemui ) kerana menunjukkan bukti bahawa membalas perbuatan buruk dengan balasan baik boleh dilakukan. Dan ianya mudah dilakukan serta memudahkan… jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri, entah sampai bila ungkapan-ungkapan itu hanya tinggal teori-teori kosong… Alhamdulillah…

Ana rindu enti, dan sindiran itu…

“Hei daie… hati jangan sejemput!!!”


::cerpen yang dikutip dari blogspot /wordpress::forgot where i got::thanks to the writer::

Manusia adalah unsur inti dari kehidupan. Peningkatan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) senantiasa menjadi isu penting semua organisasi. Bahkan disaat teknologi dianggap sebagai parameter sebuah negara dikatakan maju, SDM tetap menjadi persoalan penting yang diyakini mempengaruhi secara signifikan eksistensi negara tersebut dalam peradaban dunia. “The man behind the gun”, begitu kira-kira orang sana membahasakan betapa pentingnya unsur manusia disamping teknologi. Bagaimanapun canggihnya teknologi, tidak akan bermanfaat bila tidak ada manusia yang bisa menggunakannya. Bahkan ia dapat menjadi bencana bila manusia menyalah gunakannya.

Dari sini, kita memperoleh dua kata kunci tentang SDM ini. Pertama, dan ini yang terpenting, adalah persoalan pembentukan kepribadian manusia, sehingga ia tak menyalah gunakan apapun yang berada ditangannya. Kedua, peningkatan kemampuan, kompetensi dan kapabilitas manusia sesuai bakat, minat dan spesialisasinya. Bahwa pengembangan dalam teknologi, metodologi atau apapun tak akan berarti apa-apa jika tak diiringi dengan peningkatan kemampuan manusianya. Singkatnya, kita dapat mengatakan bahwa teknologi, metodologi dan kawan-kawannya hanyalah tools atau alat, manusialah yang menentukan apakah ia bermanfaat atau justru menjadi bencana.

Dua aspek penting yang terkait SDM, pembentukan kepribadian dan peningkatan kemampuan manusia inilah yang menjadi core kerja tarbiyah kita. Keduanya harus berjalan seiring dan seimbang. Jadi kerja tarbiyah intinya adalah membentuk kepribadian manusia secara bertahap sehingga menjadi pribadi yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya, lalu meningkatkan kemampuannya hingga menjadi kader yang mampu melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadanya dalam rangka mengembalikan kejayaan Islam dan kaum muslimin.

Disinilah letak persoalannya. Tarbiyah merupakan metodologi, cara, sarana, alat atau tools. Tarbiyah memerlukan unsur lain agar dapat diaplikasikan. Kita asumsikan unsur lain itu adalah manhaj, idarah (manajemen), Murabbi dan Mutarabbi.

Mari kita renungkan lebih dalam. Untuk aspek manhaj, kita sudah memilikinya. Bahkan untuk menjaga ta’shil (orisinalitas) dan mengikuti perkembangan lapangan,manhaj tarbiyah terus dievaluasi dan direvisi secara berkala. Lebih jauh, seluruh kader dapat secara langsung memiliki dan mengakses manhaj itu karena telah dibukukan. Untuk aspek idarah pun demikian, kader dapat mengakses sistem itu dengan mudah, apalagi idarah ini bukanlah suatu konsep yang sulit dan rumit bagi rata-rata kader.

Tetapi sebagaimana “kaidah” diawal tulisan ini, betapapun bagus dan lengkapnya manhaj atau idarah yang dimiliki, tak akan berarti apa-apa jika tak ada yang mampu dan mau mengaplikasikannya. Jadi, suka tidak suka kita harus kembali kepada pentingnya unsur manusia (dalam konteks ini adalah Murabbi dan Mutarabbi) untuk membuat tarbiyah berjalan dengan baik.

Maka, upaya merevisi manhaj dan idarah harus diiringi dengan upaya penyiapan dan peningkatan kemampuan para Murabbi. Ini karena para Murabbi adalah “The man behind The Manhaj and The Idarah”. Lalu, siapa yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan program penyiapan dan peningkatan kemampuan para Murabbi? Ya, jawabannya adalah struktur yang memiliki program tersebut. Dan siapa yang berada di struktur itu? Manusia juga kan? Maka upaya yang harus dilakukan juga adalah meng up grade mereka yang berada di struktur tarbiyah hingga punya kemampuan dan kemauan melaksanakan program yang menjadi tanggung jawabnya.

Demikianlah persoalan ini akan saling terkait satu dengan lainnya. Tetapi pada intinya, faktor manusia (kader) senantiasa menjadi yang sangat signifikan mempengaruhi keberhasilan dakwah, bersama faktor tools lainnya tadi.

Tengoklah sejarah. Keberhasilan dakwah Rasulullah bisa dikatakan sangat didukung oleh dua faktor SDM, disamping tentu saja faktor bimbingan manhaj Alllah SWT. Faktor pertama adalah beliau sendiri sebagai SDM Murabbi yang handal, dan faktor kedua yang tak boleh diabaikan, adalah adanya SDM mutarabbi kader-kader yang berkualitas, yang dalam istilah Syaikh Sayyid Quthb disebut sebagai al-Jiil al-Qur’an al-Fariid (Generasi Qur’ani Yang Unik). Itulah Abu Bakr ash-Sidq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Amr bin Yasir, Abdullah bin Mas’ud dan masih banyak lagi. Merekalah generasi shahabat Rasululllah SAW yang mempersembahkan hidup mati mereka demi tegaknya izzul Islam wal muslimin.

Jadi, jika ingin meraih kembali kemenangan dakwah, kita harus membenahi kader disemua jenjang dan lapisnya. Kader jajaran pimpinan, kader fungsionaris struktur, kader yang berada di lembaga legislatif atau eksekutif, kader kepala daerah, kader birokrat, kader profesional, kader Murabbi dan kader Mutarabbi, semuanya harus dikokohkan secara terus menerus tarbiyahnya. Konsekwensinya adalah program-program yang berorientasi pada pengokohan tarbiyah kader harus menjadi prioritas kita. Agar kader memiliki energi dahsyat untuk melakukan kerja-kerja dakwah. Agar Allah memberikan pertolongan- Nya. Maka dengan kekuatan kader dan pertolongan Allah, insya Allah dakwah ini akan mengembalikan izzul islam wal muslimin. Allahu Akbar!

::copy n paste from::here